Welcome back to my blog! Kali ini saya akan mereview sebuah novel yang ditulis oleh Clara Ng. yang berjudul "Mantra Dies Irae". Novel ini diterbitkan di Jakarta pada Oktober 2012. Penasaran gak sih sama novel ini? Dari Judul aja udah bikin penasaran, gimana isinya coba...hihihi
Gak perlu berlama-lama lagi, yukkkk cusss kita mulai......
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Novel ini
menceritakan kisah cinta para penyihir. Suatu kisah cinta yang rumit. Entah
segi delapan, entah segi sembilan. Ada amarah ada tawa, ada tangis dan ada
senyum. Walaupun alur cerita mudah ditebak, tapi cerita ini ringan, romantis,
mengharukan, lucu, dan sangat menghibur dengan humor dan gaya bahasa Clara Ng
yang segar dan lugas.
Pax yang pesimis
dan diam-diam memendam cinta setengah mati pada Oryza yang manis dan emosional.
Dunia Pax hancur lebur ketika mendengar Oryza dilamar Xander, langsung dari
mulut Oryza sendiri. Hanya satu tempat untuk melarikan diri dari hal yang
menyakitkan itu. Ya, warung makan Nuna. Tukang masak bebek crispy yang bawel,
yang pasti bisa memahami perasaan Pax.
Nuna yang biasanya
tegar dan sangat mencintai Xander juga menangis sedih mendengar kabar lamaran
tersebut. Oryza yang judes tapi lembut hati berniat mencomblangkan Pax dan
Nuna.
Pax kaget karena
ternyata Xander, si penyihir tampan yang menguasai mantera Dies Irae biseksual!
Konflik terjadi ketika Tsungta dan Chao masuk ke dalam kehidupan mereka. Belum
lagi kekocakkan tingkah Strawberry yang melakukan apapun untuk mendapatkan
cinta Xander.
Sebenarnya dalam
novel ini, tokoh-tokohnya mempunyai kemiripan watak. Seperti Nuna dan Oryza
yang judes dan galak. Chao, Tsungta, dan Strawberry yang menghalalkan segala
cara untuk mendapatkan cinta. Yang kontras ialah watak Xander yang percaya
diri, usil, fleksibel dengan watak Pax yang pesimis, pemarah, dan sensitif.
Tokoh guru sihir
Pax yang terpaksa menjual ilmunya menggambarkan keinginan penulis untuk
mengangkat masalah kesejahteraan guru.
Thank You
.
.
.
.
.
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar